Pertanyaan apakah plastik mulsa tembus air sering muncul dari petani yang baru mau beralih dari bedengan terbuka ke bedengan bermulsa. Logikanya masuk akal: kalau seluruh permukaan bedengan tertutup plastik, lalu air siraman dan air hujan masuk lewat mana? Apakah tanaman tidak kekeringan?
Jadi, apakah plastik mulsa tembus air?
Tidak. Plastik mulsa hitam perak (MPHP) tidak tembus air.
Bahannya polietilen, jenis plastik yang sifatnya memang kedap. Air yang jatuh di permukaan mulsa akan mengalir ke tepi bedengan lalu turun ke parit, bukan meresap ke bawah.
Dan itu bukan kekurangan. Justru sifat kedap inilah yang jadi alasan utama mulsa dipakai:
- Uap air tidak lolos ke udara. Kelembapan tanah terkunci di bawah plastik, sehingga tanah tetap lembab jauh lebih lama dibanding bedengan terbuka.
- Pupuk tidak tercuci. Saat hujan deras, pupuk dasar di bedengan terbuka bisa hanyut. Di bawah mulsa, pupuk tetap di zona perakaran.
- Gulma tidak tumbuh. Sisi hitam di bagian bawah menutup cahaya, jadi biji gulma tidak berkecambah.
- Struktur tanah terjaga. Tanah tidak memadat karena tidak terkena pukulan air hujan langsung.
Kalau mulsa dibuat tembus air, empat keuntungan itu hilang semua sekaligus.
Memang ada jenis mulsa berlubang halus (perforated mulch) yang dipakai di beberapa negara untuk komoditas tertentu, tapi di pasaran Indonesia yang beredar luas adalah mulsa kedap air biasa dengan ketebalan 0,03 sampai 0,05 mm.
Lalu air masuk lewat mana?
Ada tiga jalur, dan semuanya sudah diperhitungkan dalam sistem budidaya bermulsa:
- Lubang tanam. Setiap lubang berdiameter 10 cm adalah pintu masuk air langsung ke zona akar.
- Tepi bedengan. Sisi kiri dan kanan bedengan tidak tertutup sempurna sampai ke dasar parit, jadi air dari parit bisa meresap masuk.
- Daya kapiler tanah. Ini yang paling penting. Air di parit naik ke dalam bedengan lewat pori-pori tanah, persis seperti ujung kain yang dicelup air lalu basah ke atas.
Cara menyiram tanaman di bedengan bermulsa
1. Sistem leb atau genangan parit
Ini metode paling umum di lahan sawah atau lahan datar yang punya sumber air melimpah.
Caranya, parit di antara bedengan digenangi air setinggi setengah sampai dua pertiga tinggi bedengan. Biarkan 30 sampai 60 menit sampai air naik lewat kapiler dan bedengan terasa lembab. Setelah itu air harus dibuang, jangan dibiarkan menggenang semalaman.
Genangan yang terlalu lama membuat akar kekurangan oksigen dan membuka jalan bagi layu fusarium. Aturan sederhananya: basahi, lalu keringkan paritnya.
Frekuensi umumnya 5 sampai 7 hari sekali di musim kemarau, menyesuaikan jenis tanah. Tanah berpasir butuh lebih sering, tanah liat lebih jarang.
2. Kocor manual lewat lubang tanam
Cocok untuk lahan sempit, lahan kering yang tidak bisa dileb, atau saat aplikasi pupuk susulan.
Pakai gembor, selang bertekanan rendah, atau botol air bekas yang lubang tutupnya diperkecil. Siram tepat di lubang tanam, sekitar 200 sampai 400 ml per tanaman tergantung umur. Hindari menyiram langsung ke pangkal batang dengan tekanan besar karena bisa mengikis tanah dan melukai leher akar.
Kelebihan metode ini: pupuk bisa dilarutkan sekalian. Kekurangannya jelas, boros tenaga.
3. Irigasi tetes di bawah mulsa
Selang tetes dipasang di atas bedengan sebelum mulsa dipasang, jadi air keluar langsung di zona akar dan tidak ada satu tetes pun yang menguap percuma.
Ini sistem paling hemat air dan paling stabil, cocok untuk lahan kering, lahan miring, atau area dengan sumber air terbatas. Modal awalnya memang lebih besar, tapi untuk melon, cabe, dan tomat skala serius, biaya itu kembali dari penghematan tenaga siram dan hasil yang lebih seragam.
Cara mengecek tanaman sudah cukup air atau belum
Jangan menebak dari permukaan mulsa, karena bagian atasnya memang selalu kering.
- Masukkan jari ke lubang tanam sedalam 5 cm. Kalau tanah masih menempel di jari dan terasa dingin, berarti masih lembab.
- Lihat embun di balik mulsa. Angkat sedikit tepi mulsa di pagi hari. Kalau bagian dalamnya berembun, kelembapan masih cukup.
- Perhatikan daun di siang hari. Daun yang layu di jam 12 lalu segar lagi sore hari itu normal. Kalau sore masih layu, baru tanaman benar-benar kurang air.
Yang justru berbahaya: kelebihan air
Karena mulsa mengunci kelembapan, kesalahan paling sering di lapangan bukan kurang air, tapi terlalu sering menyiram. Gejalanya mirip kekurangan air, daun layu dan menguning, sehingga petani malah menambah siraman dan masalahnya makin parah.
Untuk mencegahnya:
- Tinggikan bedengan di musim hujan, 40 sampai 50 cm
- Pastikan parit punya kemiringan dan saluran pembuangan, jangan sampai jadi kolam
- Jangan menambah lubang di mulsa dengan alasan supaya air hujan bisa masuk
Kesimpulan
Jadi soal plastik mulsa tembus air atau tidak, jawabannya sudah jelas tidak, dan justru itulah yang membuatnya berguna. Kelembapan terkunci di bawah plastik, pupuk tidak hanyut, dan gulma tidak tumbuh. Air tetap masuk lewat lubang tanam, tepi bedengan, dan daya kapiler tanah dari parit.
Yang perlu diubah bukan mulsanya, melainkan cara menyiramnya. Pilih satu sistem yang paling cocok dengan kondisi lahan, entah leb, kocor, atau irigasi tetes, lalu cek kelembapan dari dalam lubang tanam, bukan dari permukaan mulsa yang memang selalu kering. Dengan begitu, penyiraman jadi jauh lebih hemat dan risiko kelebihan air bisa dihindari.
FAQ
Apakah plastik mulsa tembus air?
Tidak. Mulsa hitam perak terbuat dari polietilen yang sifatnya kedap. Air masuk lewat lubang tanam, tepi bedengan, dan daya kapiler tanah dari parit.
Kalau begitu, apakah tanaman perlu disiram meskipun sudah pakai mulsa?
Perlu, tapi frekuensinya jauh lebih jarang. Di bedengan terbuka mungkin 2 hari sekali, di bedengan bermulsa bisa 5 sampai 7 hari sekali.
Apakah mulsa perlu dilubangi tambahan supaya air hujan bisa masuk?
Tidak dianjurkan. Lubang tambahan membuat gulma tumbuh, pupuk tercuci, dan mulsa cepat sobek. Fungsi utama mulsa justru hilang.
Apakah air hujan saja sudah cukup untuk tanaman bermulsa?
Di musim hujan dengan curah tinggi, biasanya cukup dan penyiraman malah perlu dihentikan. Yang lebih penting saat itu adalah memastikan parit lancar.
Kenapa tanah di bawah mulsa masih kering padahal parit sudah digenangi?
Kemungkinan besar bedengan terlalu tinggi untuk jenis tanahnya, air digenangi terlalu sebentar, atau tanahnya berpasir sehingga daya kapilernya lemah. Coba perpanjang waktu genangan atau kombinasikan dengan kocor.
Sisi perak menghadap ke atas atau ke bawah?
Sisi perak selalu menghadap ke atas untuk memantulkan cahaya dan mengusir hama seperti kutu daun dan thrips. Sisi hitam menghadap ke tanah untuk menekan gulma.
Apakah mulsa membuat tanah jadi terlalu panas?
Permukaan plastiknya memang panas, tapi suhu tanah di bawahnya justru lebih stabil karena terlindung dari penguapan dan perubahan suhu ekstrem.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai Plastik Mulsa merk Urban Plastic, silahkan hubungi melalui: Whatsapp/Mobile Phone : +62 811 1721 338 (Ais) atau: Email: info@urbanplastic.id